Hipertensi Picu Kepikunan

HIPERTENSI, selain memicu penyakit mematikan seperti serangan jantung, stroke, dan gagal ginjal, juga menyebabkan demensia alias kepikunan di usia lanjut yang menurunkan kualitas hidup.
Karena itu, pengendalian terhadap hipertensi penting dilakukan.

Dokter spesialis saraf Yuda Turana menjelaskan dulu hipertensi dianggap menyebabkan demensia secara tidak langsung, yakni lewat kejadian stroke lebih dulu. Jadi, hipertensi memicu stroke, lalu stroke menyebabkan demensia.

“Stroke yang terjadi di pusat kognitif pada otak memang menyebabkan demensia. Namun, sejumlah riset 10 tahun terakhir menunjukkan demensia akibat hipertensi bisa terjadi tanpa didahului dengan stroke,” ujar Yuda pada kegiatan 10th Scientific Meeting of Indonesian Society of Hypertension (Ina SH), Jumat (12/2).

Berdasarkan penelitian, ada banyak mekanisme patofisiologi yang menjelaskan bagaimana hipertensi bisa menyebabkan demensia. Salah satunya, tekanan darah yang tinggi merusak dinding pembuluh darah sehingga lamakelamaan pembuluh darah kaku dan menyempit. Akibatnya, suplai darah ke otak berkurang. Efeknya, otak kekurangan nutrisi dan oksigen yang dibawa darah.

“Otak menjadi mengerut, termasuk bagian hippocampus yang merupakan pusat memori. Meski hippocampus hanya bagian kecil dari otak, erubahan sedikit saja volume hippocampus sangat berpengaruh pada memori manusia,” papar Ketua Ina SH itu.

Menurut Yuda, awalnya penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara hipertensi pada manula dengan demensia. Kemudian, riset dikembangkan lebih lanjut dengan meneliti hipertensi pada orang-orang di usia pertengahan, 40-an tahun. Pada penelitian panjang tersebut terlihat semakin muda terkena hipertensi, risiko demensia pada usia lanjut bertambah. “Orang yang mengalami hipertensi di usia 40-an tahun, berisiko lima kali lebih tinggi untuk mengalami demensia pada usia 60-an tahun,“ imbuh Yuda.

Peningkatan risiko itu muncul karena hipertensi umumnya tidak berdiri sendiri.Sekitar 80% dari kasus hipertensi disertai penyakit-penyakit yang juga merusak pembuluh darah seperti hiperlipidemia dan diabetes. Seiring bertambahnya usia, dampak buruk penyakit-penyakit itu semakin bertambah, termasuk dampak terhadap otak.

Yuda menambahkan salah satu gangguan yang terjadi akibat demensia ialah disfungsi visuospatial. Misalnya, sering tersesat di jalan dekat rumah sendiri, lupa di mana berada, bagaimana harus ke tempat tersebut, dan tidak tahu bagaimana kembali ke rumah.

“Pencegahan terhadap demensia pada kasus hipertensi ini adalah dengan cara mengonsumsi obat antihipertensi. Penelitian menunjukkan penggunaan obat antihipertensi dapat menurunkan risiko demensia sebesar 8% setiap tahunnya pada pasien berusia di bawah 75 tahun,“ jelasnya.Gagal ginjal Hipertensi ditandai dengan tekanan darah di atas 140/90 mmHg. Di tingkat nasional, prevalensi pasien hipertensi mencapai 25,8% (Riskerdas 2013). Yang memprihatinkan, lebih dari 60% penderita hipertensi tidak sadar mereka mengidap penyakit tersebut mengingat hipertensi memang jarang menimbulkan gejala. Dampaknya, 80% penderita hipertensi tidak melakukan kontrol terhadap tekanan darah. Padahal, kontrol terhadap hipertensi harus dilakukan untuk menghindari berbagai komplikasi berbahaya, termasuk gagal ginjal.

“Berdasarkan data dari Indonesian Renal Registry tahun 2013, penyebab utama kasus gagal ginjal di Indonesia ternyata adalah penyakit hipertensi. Hal ini berbeda dengan kasus gagal ginjal di dunia yang faktor penyebab utamanya adalah diabetes,“ ujar dokter konsultan ginjal-hipertensi, Tunggul Situmorang, pada kesempatan sama.

Oleh karena itu, menurutnya, pemerintah, tenaga kesehatan, dan seluruh masyarakat harus berpartisipasi meningkatkan kewaspadaan terhadap hipertensi, termasuk menghindari konsumsi garam berlebih sebab garam merupakan salah satu penyebab hipertensi.

“Namun, bukan berarti tidak boleh mengonsumsi garam sama sekali, melainkan mengendalikan penggunaannya.Nilai garam yang dianjurkan bukan nol, melainkan antara 135-145 mEq/L. Di bawah angka tersebut, seseorang dapat mengalami kejang-kejang,“ kata dokter yang juga ahli nefrologi itu.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat memberi perhatian lebih pada bayi prematur. “Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit ginjal kronis dan hipertensi sebab organ pada ginjal untuk mengendalikan hipertensi belum terbentuk sempurna,“ imbuh Tunggul.

Ia pun menganjurkan agar tumbuh kembang bayi prematur diperhatikan, diupayakan untuk tidak mengalami obesitas agar risiko itu tidak makin meningkat.

Sementara itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Arieska Ann Soenarta mengungkapkan meningkatnya kecenderungan perempuan masa kini untuk mengalami hipertensi. Selain karena gaya hidup yang tidak berbeda dengan laki-laki, seperti merokok, perempuan masa kini juga dipusingkan dengan beban ganda, berkarier sekaligus mengurus anak.

“Itu yang membuat beberapa puluh tahun terakhir risiko hipertensi pada wanita meningkat,“ katanya.

Ia mengingatkan masyarakat perlu menjalankan pola hidup sehat untuk mencegah hipertensi dan memeriksa tekanan darah secara rutin untuk mendeteksi dini penyakit itu. “Para penderita mengonsumsi obat pengendali tekanan darah secara teratur seumur hidup. Itu harus dipatuhi,“ tegasnya.

(H-3) fetry@mediaindonesia.com

Sumber: Media Indonesia

 

Go back