Asuransi Disabilitas
Bab 1. Pengembangan dan Sorotan Sejarah
1.1. Sejarah Awal:1920 – 1929
Industri ini, sebagaimana yang diketahui saat ini, permulaannya adalah di bagian akhir abad ke 19, namun bentuk awal perlindungan asuransi disabilitas telah muncul sebelum itu, bentuk-bentuk awal perlindungan ini biasanya hanya memberikan perlindungan kecelakaan atau hanya merupakan tunjangan terbatas yang dibubuhkan pada kontrak asuransi jiwa biasa. Beberapa perusahaan secara berangsur-angsur, kebanyakan dari tipe paguyuban, bereksperimen dengan penjualan kontrak asuransi disabilitas yang terpisah.Tanpa memperhatikan bentuk perlindungan disabilitas selama tahun-tahun awal ini, kontrak sangat terbatas baik pada besarnya tunjangan yang dibayarkan maupun pada jangka waktu pembayarannya. Selain itu kontrak-kontrak pada periode awal ini merupakan tipe kontrak yang dapat dibatalkan, dimana perusahaan memiliki hak untuk mengakhiri polis atau menaikkan premi dengan pemberitahuan yang relatif singkat.
Di awal abad ke 20, apa yang sekarang dinyatakan sebagai kontrak yang bergaransi ini mulai muncul dalam bentuk yang sangat terbatas. Kontrak ini tidak dapat diakhiri selama masa polis, tanpa memperhatikan pengalaman klaim. Namun demikian, premi dapat dinaikkan terhadap kelompok-kelompok orang dan atas dasar pemberitahuan dari pihak asuradur atau penjamin asuransi.
Penyelidikan Armstrong, yang memiliki dampak luar biasa terhadap pengaturan praktek asuransi jiwa juga memiliki pengaruh yang nyata terhadap industri asuransi disabilitas yang masih muda ini. Seseorang yang mengambil kursus asuransi dasar benar-benar menyadari pentingnya penyelidikan Armstrong dan selanjutnya dominasi negara bagian New York dalam mengatur dan mengarahkan industri asuransi. Penyelidikan mendalam tentang praktik industri asuransi ini muncul di negara bagian New York karena adanya penyimpangan yang serius didalam industri ini. Penyelidikan ini disyahkan oleh badan pembuat undang-undang New York pada tahun 1905 dan ditujukan untuk penyimpangan dalam penjualan, investasi, dan praktik-praktik manajemen. Rekomendasi dibuat oleh badan pembuat undang-undang New York dan menetapkan standar yang tinggi untuk industri ini, yang mengoreksi banyak penyimpangan yang telah berkembang selama akhir abad ke 19. Tampaknya tidak mungkin bahwa setiap komisi atau komite di masa depan pada tingkat negara bagian dapat mempunyai dampak yang berskala nasional terhadap suatu industri sehingga penyelidikan ini di awal abad ke 20 memiliki keunggulan pada basis asuransi.
Satu hasil penting dari penyelidikan Armstrong dan perundang-undangan selanjutnya adalah dalam wilayah bahasa polis dan ketetapan-ketetapan. Selanjutnya, peraturan-peraturan ketentuan polis asuransi kesehatan yang pertama mulai ada pada tahun 1911. Peraturan-peraturan ini dinamakan Uniform Standard Provisions Law (Undang-Undang Ketetapan Standar yang Seragam) dan juga diterapkan terhadap asuransi disabilitas.
Pada akhir tahun belasan (1916), kontrak asuransi disabilitas pertama yang tidak dapat dibatalkan dan bergaransi untuk dapat diperbaharui kembali mulai muncul, dan pendahulu Perusahaan Asuransi Jiwa Paul Revere memperkenalkan kontrak pertamanya pada tahun 1918 (lihat gambar 1-1). Prinsip “non-can” disability income coverage (perlindungan asuransi disabilitas “dapat-tidak dapat”) merupakan prinsip yang paling revolusioner pada waktu itu. Asuradur atau penjamin asuransi tidak hanya memberi garansi untuk melanjutkan kontrak bagi umur polis yang dikhususkan (biasanya umur 55 sampai 60 tahun) tetapi juga memberikan garansi tingkat atau besaran harga premi yang disebutkan selama periode waktu itu. Hal ini berarti mencabut haknya untuk merubah premi atau membatalkan kontrak yang merupakan ciri semua kontrak disabilitas pada waktu itu. Para inovator dalam industri ini selama tahun-tahun tersebut tidak hanya memperlihatkan keberanian tetapi juga tinjauan kedepan dan pengetahuan yang banyak, karena bahasa kontrak dasar mereka terus dipakai sampai sekarang.
Antara 1918 dan 1929, mengikuti berakhirnya Perang Dunia I, industri asuransi disabilitas tumbuh pesat dan banyak perusahaan memasuki bisnis ini. Satu perkembangan yang kemudian akhirnya menyebabkan kerugian finansial yang serius bagi banyak perusahaan adalah munculnya definisi bebas (liberal) tentang disabilitas, terutama pada pasal-pasal tambahan tentang perlindungan asuransi disabilitas sebagai rider atau yang ditumpangkan pada kontrak asuransi jiwa. Besarnya ganti rugi secara normal adalah prosentase besarnya asuransi jiwa yang dicantumkan. Namun sayangnya, bahasa kontrak dan underwriting tidak membedakan secara cermat antara resiko disabilitas dan resiko asuransi jiwa. Karena jenis tunjangan disabilitas pada polis asuransi jiwa ini lebih ditulis terutama oleh perusahaan dengan ketrampilan asuransi jiwa daripada ketrampilan asuransi disabilitas, maka elemen-elemen proteksi yang penting menjadi hilang. Beberapa tipe kontrak ini mengandung ketetapan-ketetapan disabilitas yang meningkatkan besarnya tunjangan disabilitas secara substansial ketika seorang individu masih mengalami disabilitas untuk waktu yang lebih lama. Akibatnya, motivasi dan insentif untuk sehat secara substansial berkurang. Ini mungkin adalah bukti nyata pertama dalam bisnis disabilitas tentang sifat subyektif penentuan disabilitas, dan memang, hal ini secara normal agak berbeda dari penentuan secara obyektif tentang kematian untuk pembayaran asuransi jiwa. Keinginan untuk bekerja, yang dipercepat atau diperlambat oleh iklim ekonomi, merupakan faktor tunggal yang paling nyata yang membedakan asuransi disabilitas dari asuransi jiwa. Walaupun iklim ekonomi merupakan variabel kunci yang mempengaruhi kualitas keinginan untuk bekerja, lingkungan sosial dan sikap masyarakat, ketika mereka berbeda dari satu segmen masyarakat ke masyarakat lain dan ketika mereka berubah dengan waktu, akan mempunyai dampak yang langsung terhadap pengalaman disabilitas. Kita akan membahas masalah penting tersebut secara lebih mendalam lagi di buku ini nanti.





